Cerpen Pertamaku : Cinta tersembunyi

Suara teriakan terdengar dari sebuah rumah mewah di Jalan Kamboja Denpasar.

“Kak sini donk kunci mobilku kan aku mau pake mobilnya!” teriak Tere sambil mengejar kakaknya Dika

“Eh pokoknya aku yang sekarang giliran pake mobil ini.” jawab Dika cuek

“Eh kalian enggak boleh begitu karena papa akan belikan Tere mobil, jadi kalian enggak usah berantem!” sahut papa mereka

“Ye aku dibeliin mobil! Kasian dech lho Dika!” sambil tertawa

“Dasar papa curang!” sahut Dika kesal.

Sejak hari itu Tere mulai nyetir mobil yang baru dan lebih bagus daripada kakaknya, karena hal itu Dika sering marahan sama adiknya itu. Setelah beberapa bulan berjalan mereka berdua akrab kembali. Sering kali mereka saling meminjamkan mobil maupun barang lainnya. Saat Senin pagi ketika Dika berangkat kuliah mobilnya mogok. Kemudian diapun memanggil adiknya.

“Re aku pinjam mobilnya kau ya! Soalnya aku ada tes pagi ini!’ serunya

“Ya tapi ingat kjangan sampai bensinnya abis!” sahut Tere dari dalam rumah.

“Ya!” sahut Dika dari luar mobilnya.

Seketika itu Dika melesat bersama mobil adiknya dengan cepat. Sampai dia di kampus dia disoraki temannya karena  memakai mobil yang bercat pink. Dia hanya bisa tersenyum malu. Di rumah Tere tiba-tiba ingat kalau hari ini ada tes pada salah satu mata kuliahnya. Di kamar dia berteriak histeris dan pembantu rumah pada berlarian ke kamar Tere.

“Ada apa ya non?” salah seorang pembantu memberanikan diri bertanya.

“Begini bik, sekarang aku lagi ada tes pada salah satu mata  kuliahku dan sekarang aku tidak ada mobil, gimana nih!” sahut Tere jengkel.

Karena ketiadaan mobil Tere pun naik taksi ke kempusnya. Di kampus dia sudah ditunggu oleh seorang cowok ganteng yaitu teman dekatnya Aditya.

“Eh Re kok tumben enggak pake mobil ke kampus?” seru Aditya dari kejauhan.

“Nih gara-gara kakakku Dika tau!” menjawab dengan kesalnya.

Karena tidak ingin membuat Tere lebih kesal lagi Aditya meengajaknya ke kantin dan disana Aditya mulai menghibur Tere agar tidak kesal lagi pada kakaknya itu. Aditya adalah seorang cowok yang dari SMP telah jatuh cinta pada Tere karena sikap Tere yang baik dan dermawan walaupun sedikit manja. Di kantin tersebut Tere menceritakan pada Aditya betapa kesalnya dia terhadap kakaknya. Aditya terus menanggapinya dengan wajah tersenyum. Usai dari kantin Tere dan aditya mengikuti tes mata kuliah hari ini, termasuk kakaknya juga di ruangan yang cukup jauh jaraknya.

Usai dari tes tersebut Aditya mengantar Tere pulang ke rumah, sampai di depan rumah Tere, Aditya melihat Dika sudah menunggu di depan pintu rumah sambil membawa sebuah kotak kecil yang cukup bagus. Setelah berhenti Tere keluar dan kakaknya Dika segera menyambutnya sambik berseru.

“Ter cepet kesini donk aku ada surprise buat kau, karena kau sudah mau pinjemi aku mobil!”

“Ya ya, sini mana hadiahnya!” sahut Tere gembira.

Saat melihat itu Aditya sangat iri, karena dia melihat Tere dan kakaknya yang sangat akrab sekali. Setelah selesai dalam lamunannya Aditya pulang. Di teras depan ruamah Tere membuka kotak kecil yang dikasih kakaknya , dan dia berteriak serta berlari ke dalam rumah. Tere berteriak karena melihat sesuatu yang meloncat dan tepatn jatuh diatas kepalanya. Dika tertawa terpingkal-pingkal. Usai setelah berhasil menyingkirkan benda itu dari kepalanya dan segera mencari kakaknya.

“Dika diamana kau sekarang ahhh…!” berkata sambil lari-lari.

“Terkejutkan dirimu!” Dika berseru dari lantai dua.

“Uh dasar kecebong!” sahut Tere dari bawah.

Begitu terus kehidupan mereka berdua sehari-harinya. Sampai suatu ketika Tere merasa janggal karena di dalam pikirannya hanya memikirkan kakaknya saja dan ia merasa jatuh cinta pada kakak angkatnya yaitu Dika, tetapi berbeda halnya dengan Dika ia merasa biasa saja perlakuannya terhadap adiknya itu. Di kampus Aditya mengungkapkan kalau dia telah cinta sejak lama dengan Tere, tetapi apalah daya Tere menolak cinta Aditya. Aditya merasa kedekatannya cukup lama dengan Tere dan mereka dibilang teman-teman kampusnya pasangan yang serasi.

“Ren kok Tere tidak mau nerima cintaku ya?” kata Aditya pada temannya dengan sedih.

“Sabarlah Dit entar juga Tere nyesel, karena mungkin masih sok!” sahut sahabatnya Rendi.

Di kamar rumahnya, Aditya berpikir untuk balas dendam yaitu dengan memanfaatkan ibunya yang sekarang menjanda untuk menikah dengan ayah Tere agar ia bisa menghancurkan kehidupan keluarga Tere. Rencananya pun dijalankan dengan merayu sang ibu.

“Bu mau enggak nikah lagi  biar Adit punya ayah?” Tanya Aditya merengek.

“Ibu si mau tapi dengan siapa?” sahut sang ibu.

“Dengan ayah Tere, karena Adit ingin keluarga Tere hancur sebab Tere sudah menolak cinta Adit!”

“Ya nak!” sahut sang ibu.

Benar saja setelah Ibu Adit mendekati ayah Tere, ayah Tere pun jatuh cinta dan dalam dua  bulan akhirnya mereka menikah dengan persetujuan Tere dan Dika yang tak tahu kalau aditya rupanya memenfaatkan ibunya.

Setelah menikah kehidupan Tere berubahdari yang semula ia bebas menjadi terikat oleh aturan sang ibu tiri.Dalam waktu singkat rumah itu sudah dikuassai Adit dan ibunya, apalagi semenjak ayahnya mulai terkena sakit kanker hati. Dika dan Tere mulai sangat kesal pas ketika melihat sang ayah meninggal karena tidak dibelikan obat oleh Adit yang disuruh sang ayah. Setelah pemakaman sang ayah ibu Adit dan Adi mengusir Dika dan Tere dari rumah.

“Dika dank kau Tere pergi kalian dari rumahku segera! Aku telah muak lihat kalian!” perintah ibutiri mereka.

“Apa kau bilang, kau ingin usir kami!” sahut Dika.

“Iya, memang kenapa?” jawab Adit.

Akhirnya Dika dan Tere pun pergi dari rumah mereka sendiri dan membawa barng-barang yang atas nama mereka saja. Kehidupan sengsara mulai dialami kakak beradik ini. Kini mereka terpaksa tinggal di rumah Rendi temen Tere. Dalam kehidupan sehari-hari kebanyakan masih ditanggung oleh Rendi yang mempunyai usaha rumahan.

“Makasih ya Ren kau sudah mau nampung kami!” kata Tere sedih.

“Enggak apa-apa kok gue kan juga temennya kau. Kamu jangan merasa  sedih!” sahut Rendi.

“Ya Ren kami jadi malu tau sudah numpang juga makan dari hasil kerjanya kamu! Sahut Dika .

Sejak saat itu hubungan Tere dan Rendi makin akrab dan cinta mulai tumbuh diantara mereka. Sampai akhirnya mereka tunangan dan juga mengundang Aditya. Saat menghadiri pesta pertunangan Tere dan Rendi, Aditya sangat terkejut dan dia menarik Tere dari tangan Rendi dan mendorongnya ke tembok yang membuat Tere jatuh dan kepalanya berdarah. Rendi yang marah kemudian memukul Adit.

“Tak kusangka kau benar-benar kejam! Adit apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu?” Tanya rendi dengan kesal sambil memangku Tere dan segera membawanya ke rumah sakit.

“Emang kenapa terserah gue, karena gue juga enggak mau Tere hidup bahagia?” sahut Aditya senang.

Setelah itu Tere dibawah ke rumah sakit bersama Dika. Di rumah sakit Tere mengalami kondisi kritis. Rendi dan Dika sangat sedih melihat hal itu. Kemudian Rendi ke kantor polisi untu melaporkan Aditya karena telah membuta Tere masuk rumah sakit. Aditya kabur ke Singapura saat polisi sedang menciduk dirinya di rumahnya. Dilain tempat kondisi Tere makin kritis karena saat itu juga ketahuan kalau Tere terserang kanker mata yang sudah stadium lanjut. Rendi sangat sedih kalau ia akan kehilangan Tere untuk selamanya.

“Ter gue enggak mau kehilangan kamu!” kata Rendi dengan penuh tetesan air mata.

“Sabar Ren gue ngerti kok perasaan kau saat ini!” sahut Dika dengan menepuk pundak Rendi.

Setelah beberapa saat kemudian tim dokter datang dan mengatakan bahwa mereka akan mengangkat mata Tere agar sel kankernya tidak menyebar ke bagian tubuh lainnya. Terpaksa saja Rendi dan Dika menyetujuinya walaupun mereka harus menggadaikan mobil milik mereka. Seusai operasi kondisi Tere mulai pulih walaupun kini ia tidak lagi bisa melihat indahnya alam ini sebab kini ia buta. Ketika sadar ia memanggil-manggil Rendi.

“Ren, Ren kau dimana? Sekarang kok semuanya gelap dan kelopak mataku enggak bisa dibuka!”

“Tenang Ter sebentar lagi perban yang menutup matamu akan dibuka oleh dokter!” sahut Rendi

Kemudian dokter pun datang dan segera membuka perban di mata Tere. Seusai dibuka dan Tere kemudian mata..

“Dok, kok semuanya gelap! Apa yang terjadi?” Tanya Tere dengan penuh penasaran.

“Begini mata kamu sudah kami angkat dan kami ganti dengan mata dari seorang donor yang sebelum kasian mendengar kondisi kamu.” Sahut dokter tersebut.

Seketika itu saja Tere langsung menangis dan berkata pada Rendi dan kakaknya Dika.

“Kak, Ren aku enggak mau kayak begini terus!” dengan nada sedih.

“Sabar Ter mungkin Tuhan sedang menguji dirimu!” sahut Dika dengan sedih.

Sejak saat itu Tere selalu sedih dan murung. Melihat kondisi itu Rendi merasa sedih dan ia berpikir untuk mendonorkan kornea matanya kepada sang kekasih. Besoknya ia menemui dokter dan memberitahu bahwa ia ingin mendonorkan kornea matanya untuk Tere. Seminggu kemudian operasi dilaksanakan.

Dika sangat terharu melihat pengorbanan Rendi kepada sang adik. Seminggu kemudian dokter membuka perban di mata Tere dan Tere kini bisa melihat indahnya dunia ini lagi, namun kini Rendi telah kehilangan kornea matanya yang bearti ia tidak akan bisa melihat indahnya dunia.

“Kak dimana Rendi, kok ia tidak ada?” dengan senang.

“Tere… Rendi sudah telah mendonorkan kornea matanya untukmu!” dengan sedih.

“Apa… kak jadi Rendi yang donorin matanya padaku!” dengan meneteskan air mata.

“Ya!” dengan menundukkan kepalanya.

Seusai pembicaraan itu Tere meminta Dika mengantarnya pulang ke rumah menemui Rendi. Sampai di rumah mereka langsung berpelukan. Suasana di rumah sederhana itu sangat mengharukan. Beberapa menit kemudian datang seorang polisi dan memberitahu bahwa Aditya telah ditangkap dan ibunya juga ditangkap karena membuat surat warisan palsu yang membuat Dika dan Tere harus kehilangan hak warisan mereka.

Sekarang Tere dan Dika dipersilahkan untuk ikut ke kantor polisi agar bisa memberi keterangan.

Sebulan kemudian dilakukan sidang dan Aditya dituntut hukuman 5 tahun penjara dan ibunya 10 tahun penjara. Mereka pasrah dan menerima putusan hakim. Diluar gedung sidang Aditya dan ibunya meminta maaf pada Dika dan Tere.

“Dik, Ter gue minta maaf ya atas kesalahan-kesalahan yang gue lakuin!” kata Aditya sedih.

“Ya nak, ibu juga minta maaf!” dengan nada suara yang kecil.

“Ya kami berdua sudah memaafkan kalian dari dulu!’ sahut Tere dengan senyum.

Sejak saat itu Tere dan Rendi hidup bahagia. Dika pun juga akhirnya kerja ke luar negeri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: